<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sekarkedhaton's Weblog</title>
	<atom:link href="http://sekarkedhaton.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sekarkedhaton.wordpress.com</link>
	<description>Pioneer - Problem Solver - Indpitator</description>
	<lastBuildDate>Mon, 01 Jun 2009 04:02:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sekarkedhaton.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sekarkedhaton's Weblog</title>
		<link>http://sekarkedhaton.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sekarkedhaton.wordpress.com/osd.xml" title="Sekarkedhaton&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sekarkedhaton.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Teori dan Praktek Kepemimpinan</title>
		<link>http://sekarkedhaton.wordpress.com/2008/06/05/teori-dan-praktek-kepemimpinan-2/</link>
		<comments>http://sekarkedhaton.wordpress.com/2008/06/05/teori-dan-praktek-kepemimpinan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2008 12:23:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sekarkedhaton</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kepemimpinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekarkedhaton.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Rendra Saudara Ketua Panitia, para hadirin sekalian, selamat malam. Seperti sudah lebih dahulu diterangkan, bahwa saya tidak akan bisa membuat skema seperti ini seperti yang telah dilakukan oleh Pater Witdarmono. Saya tidak mempunyai pandangan-pandangan yang ilmiah dan tidak pernah punya latihan seperti itu. Saya hanya akan menanggapi permintaan saudara panitia, untuk berbicara mengenai persoalan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sekarkedhaton.wordpress.com&amp;blog=3887498&amp;post=6&amp;subd=sekarkedhaton&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:20pt;" lang="EN-US"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="FI">Oleh Rendra</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:14pt;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;" lang="FI"><span> </span><span style="font-variant:small-caps;">Saudara </span>Ketua Panitia, para hadirin sekalian, selamat malam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;" lang="FI"><span> </span>Seperti sudah lebih dahulu diterangkan, bahwa saya tidak akan bisa membuat skema seperti ini seperti yang telah dilakukan oleh Pater Witdarmono. Saya tidak mempunyai pandangan-pandangan yang ilmiah dan tidak pernah punya latihan seperti itu. Saya hanya akan menanggapi permintaan saudara panitia, untuk berbicara mengenai persoalan kekuasaan dan kepemimpinan itu, dari segi penghayatan pribadi saya saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;" lang="FI"><span> </span>Saya lihat skema yang diajukan oleh Pater Witdarmono ini, sangat teliti, terperinci, dan cukup memperlihatkan betapa komplek tapi juga betapa terperincinya persoalan model-model kepemimpinan ini. Saya belum pernah memikirkan hal-hal yang semacam ini sebelumnya. Jadi sekarang menginjak giliran saya untuk berbicara, saya sedikit kaku, tapi toh baiklah saya lakukan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;" lang="FI"><span> </span></span><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Saya mempunyai pengalaman yang belum lama ini berselang. Yang berhubungan dengan renungan mengenai model kekuasan atau kepemimpinan. Seperti saudara-saudara ketahui, sudah sejak kurang-lebih empat tahun ini, saya mengalami tekanan dari kekuasaan yang sangat berat. Terhadap tidak hanya karya saya, tetapi juga terhadap hidup saya. Saya tidak boleh ke luar negeri begitu saja, saya tidak boleh mendapatkan kredit dari bank, saya tidak boleh menjalankan proyek pemerintah, saya tidak boleh mengadakan pembacaan sajak atau pementasan sandiwara, atau ceramah semacam ini sebetulnya. Dan juga saya tidak boleh melakukan penampilan-penampilan dimuka umum, dengan menjual karcis tanpa ijin yang khusus. Dan ijin yang khusus itu belum pernah saya dapat sampai sekarang. Waktu saya akan muncul membacakan sajak bersama penyair-penyair dari<span> </span>Negeri Belanda, penyair-penyair Indonesia yang bersama-sama menyelenggarakan acara pembacaan sajak itu juga hampir tidak terlaksana, hanya bisa terlaksana dengan campur tangan Duta Besar Belanda. Juga acara-acara penampilan di TIM atau dimana saja tidak bisa berlangsung. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"><span> </span>Tentu saja ini merupakan pengalaman pribadi dalam berbenturan dengan kekuasaan atau kepemimpinan yang ada dalam masyarakat sekarang. Akhirnya frustrasi itu pasti ada. Reaksi yang pertama tentu saja reaksi yang emosionil. Perkara kemungkinan mengembangkan karier sebagai penyair, tidak begitu menjadi masalah, karena toh saya tetap bisa menulis sajak-sajak, dan bisa saya simpan di laci, dan tidak begitu peduli entah kapan diterbitkannya, karena periode berkarya untuk mencari reputasi atau mencari nama itu sudah lewat. Dan barangkali saya kurang begitu menyadari bahwa mengarang atau berkarya untuk reputasi. Tapi apalagi sekarang sudah merasa mempunyai reputasi tertentu, mendapatkan perhatian, mendapatkan hadiah ini hadiah itu, mendapatkan undangan ini undangan itu, buku-buku diterjemahkan. Jadi tidak ada kepentingan betul untuk mengembangkan reputasi semacam itu. Jadi berkarya untuk menampung inspirasi, untuk merekam inspirasi, untuk diteruskan kepada orang lain, tetapi tidak begitu terikat, bahwa itu harus terjadi sekarang. Nanti boleh. Jadi bisa saya simpan dalam laci. Boleh saja terbit nanti sesudah saya mati. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"><span> </span>Tetapi ada, inspirasi yang sifatnya historionik, atau harus dimainkan begitu. Inspirasi yang menjelma dalam pikiran seorang dramawan, seorang aktor, yang itu harus diwujudkan dalam pertunjukan. Dan tidak bisa disimpan dulu lalu dimainkan sesudah saya mati. Kalau saya mati nggak bisa main lagi, kan. Jadi harus dimainkan sekarang, dan ada bedanya dimainkan lima tahun atau sepuluh tahun lagi. Sebab ini sesuatu yang aktuil. Frustrasi ini saya tidak tahu cara menghadapinya. Dan saya terus berusaha mendekati pimpinan-pimpinan yang ada, supaya bisa main. Tapi kalau alternatifnya hanya bila saya berkompromi, itu tidak bisa saya lakukan. Ini menyebabkan, ya saya sakit, terus karena itu teman-teman berusaha, &#8230;. berusaha &#8230;. apa, menolong menguraikan sakit jiwa saya itu, antara lain, teman-teman mencoba mengirimkan saya ke luar negeri untuk berobat. Eee &#8230; dan dengan pertolongan beberapa kawan yang ada di kekuasaan dan Duta Besar Belanda waktu itu, saya berhasil ke luar negeri dan kembali dalam keadaan sehat, lalu ada juga seorang teman lagi, minta saya untuk kliling, &#8230; kliling di Indonesia. Akhirnya ada seorang teman yang mengirim saya ke Toraja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"><span> </span>Saya pergi ke Toraja, dalam keadaan sering merenung-renung, mengenai perjalanan hidup saya yang penuh pengalaman berkonflik dengan ayah saya, berkonflik dengan, &#8230; apa, &#8230; waktu saya masih memeluk Agama Katolik dengan Pater <em>bichten </em>saya. Lalu kemudian konflik saya dengan rezim Soekarno dan Lekra, sehingga saya waktu itu juga dilarang. Dilarang melakukan aktifitas, ya ditangkap juga, ya diinterogasi juga. Lalu kemudian konflik dengan rezim Soeharto. Ini saya renung-renungkan, gitu. Dalam keadaan seperti itu saya melakukan perjalanan ke Toraja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"><span> </span>Di Toraja tujuannya sebetulnya kata teman saya ya lihat saja yang aneh-aneh. Upacara orang kematian, apa yang <em>you </em>belum pernah lihat, ya untuk hiburan saja. Tapi sampai di Toraja, dan juga setelah keliling Sulawesi Selatan, saya melihat model kekuasaan tradisional yang lain. Saya kira, pada dasarnya masyarakat kita ini masih tradisional. Betul ada kompleks-kompleks yang lain seperti yang dilukiskan disini (dalam skema model-model kepemimpinan yang disajikan oleh Pater H. Witdarmono), tetapi secara umum gitu, secara umum, secara dasar, ya masih tradisional. Mekanis, tradisional. Yang tidak mekanis dan tradisional itu hanya semu-semu, atau tidak bisa dominan dengan sebenarnya. </span><span style="font-size:12pt;" lang="SV">Tapi dalam pemerintahan itu, pemerintahan yang tradisional dan mekanis itu Jawa. Waktu melihat tata masyarakat di Toraja, saya melihat susunan masyarakat tradisional juga, mekanis juga. Tetapi, ada sesuatu yang lain. Yang lain itu ialah bahwa adat disana itu dominan. Begitulah kira-kira gambarannya di seluruh masyarakat Toraja dan di Sulawesi Selatan itu, pepatahnya, gambarannya, gambaran hubungan kekuasaan dan masyarakat itu, menurut pepatahnya itu adalah adat, karaeng atau penguasa, dan masyarakat. Begitulah pendapat orang-orang Suku Kajang yang terpencil itu, begitulah pendapat orang-orang Bugis, begitulah pendapat orang Toani, suku terkucil juga, dan begitulah orang-orang Toraja memandang hubungan penguasanya dan masyarakat. Yaitu adat, pengusa, masyarakat. Ini berbeda tentu saja dengan di Jawa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;" lang="SV"><span> </span></span><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Sebab adat seperti itu rasanya tidak ada, yang ada tata-cara, tata-krama, bukan adat yang konstrin artinya yang kalau dilanggar itu salah betul. Biarpun rakyat biasa atau penguasa itu salah betul. Itu ada hukumannya. </span><span style="font-size:12pt;" lang="SV">Lha kalau di Jawa kan hanya tata-cara, tata-krama, mungkin adat yang berarti kebiasaan sehari-hari. Tapi ini menyangkut pidana, perdata, ini ada adat semacam itu. Nah, juga dalam mithologinya, Jawa dan Toraja itu berbeda. Menurut mereka, Tuhan mereka itu menciptakan manusia, makhluk-makhluk dan lain-lain, dan lalu manusia yang pertama diturunkan di dunia ini, itu sudah membawa adat. Dan lalu penguasa ini melaksanakan adat. Lalu mereka mempunyai semacam dewan adat juga, untuk mengawasi apakah penguasa ini menjalankan kekuasaannya sesuai dengan adat. Lalu baru masyarakat. Jadi sejak dari alam mithologi, mereka itu mengakui ada sesuatu, yang lebih kuasa dari kekuasan penguasa. Ini menarik sekali bagi saya orang Jawa yang tahunya bahwa dewa-dewa menurunkan wahyu kepada orang untuk menjadi raja dan raja itu yang bikin peraturan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;" lang="SV"><span> </span></span><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Jadi masalah yang penting kekuasaan. </span><span style="font-size:12pt;" lang="FI">Lalu baru kekuasaan ini bikin peraturan. Yang kadang boleh ganti, boleh tidak, ya semau dia deh. Dan dia sendiri tidak tersentuh oleh kekuasan, karena kalau dia berkuasa gambarannya itu seperti dia menjadi jilmaan Wisnu, atau Syiwa, atau Panotogomo, ha itu Sultan Hamengku Buwono atau Paku Buwono yang juga menjadi Panotogomo, pengatur agama. Pendeknya lalu dia membuat peraturan. Dan rakyat hidup dengan sopan-santun dan adat istiadat saja. Tidak punya moral <em>siri</em> sebagaimana di Toraja misalnya. Kalau melanggar itu ada, kalau berbuat salah, itu barangkali orang disana itu melanggar <em>siri, </em>artinya rasa tanggung-jawab pribadi. Lebih jauh lagi dia bisa melanggar adat dan itu terhukum betul. Wah itu dihukum, itu harus menebus dengan menyembelih sapi dan harus mengaku itu. Dia harus menjalankan upacara mengaku, mengaku saya salah begini, biarpun dia penguasa. Lalu kemudian, hukumannya ya menyembelih kerbau, atau babi, atau ayam, sesuai dengan besar kesalahannya. Nah ini menyentuh perasan saya betul. Bahwa disana meskipun mekanis ada pengertian moral seperti itu dan ada juga perbedaannya dengan masyarakat Jawa, mengandalkan pada <em>tepo sliro</em> untuk hubungan sesama manusia itu. Ya kalau mas tidak mau kakinya diinjak, jangan mas nginjak kaki saya. Tapi kalau disana nggak perlu tepo sliro, memang menginjak kaki itu nggak boleh itu, nggak boleh. Udah nggak usah pakai <em>tepo sliro-tepo sliro. </em>Lalu juga tidak pada tempatnya orang Toraja itu masyarakat mengharapkan raja itu ya supaya bijaksana, adil dan lain sebagainya, seperti orang Jawa. Mengharapkan supaya raja itu raja adil <em>wicaksono, </em>segala macam, dan lalu mengandalkan kebaikan hati penguasa, pengertian penguasa, supaya nasibnya menjadi baik. Kalau di daerah Toraja, Raja memang harus tidak menyalahi adat, kalau menyalahi adat, digusur. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;" lang="FI"><span> </span>Seperti terjadi sudah di dalam sejarah mereka ada raja yang dijatuhkan karena menyalahi adat. Dijatuhkan bersama-sama. Dan juga di Bugis ada raja yang dikejar-kejar itu, dikejar-kejar sampai meninggal, hah &#8230; hah&#8230; di tangga oleh rakyat karena melanggar adat. Jadi, di salam sejarah mereka rakyat itu boleh berontak. Atau mau memberontak. Untuk melindungi adat yang berlangsung. Sedang di Jawa nggak ada dong pemberontakan rakyat. Yang ada itu pemberontakan jagoan-jagoan saja kan? Trunojoyo, Ki Ageng Mangir, atau itu <em>play-boy </em>itu Hadiwijoyo, Joko Tingkir. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;line-height:119%;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="FI"><span> </span></span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="EN-US">Saya sendiri biarpun sampai pakai sarung dari karet, celana goni, makan kekuarangan, mati kelaparan, tidak akan berontak. Di Cirebon, itu di dalam sejarahnya, penuh dengan paceklik, bencana kelaparan. Dari 1831-1832 hampir setiap tahun terjadi bencana kelaparan. Ada satu periode bangsawan Cirebon itu tidak bisa membayar pelayannya. Terus biasa sekali orang itu menjual anak atau menjual isteri untuk bisa makan. Tetapi mereka tidak pernah berontak. Tidak terjadi pemberontakan. Ada pemberontakan sekali, dilalukan oleh I Bagus Rangin, itu karena Bagus Rangin ini seorang jagoan, dan dia bukan karena kelaparan. Dia tersinggung saja karena ada batas rumahnya yang ketabrak atau bagaimana, dia marah, terus berontak. Begitu saja. Dan kalah. Dan tidak pernah dikenangkan orang. Kalau sekarang kita pergi ke Cirebon tanya pada dalang-dalang mereka tidak ingat ada Bagus Rangin yang pernah berontak itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;line-height:119%;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="EN-US"><span> </span>Jadi gambarannya kalau orang Jawa, terhadap kekuasaan itu, ya ingin pengertian, atau mengharapkan ratu adil. Kalau di Toraja tidak perlu ratu adil, tapi adat yang adil. Tentu tidak sama dengan sistem moderen yang adil, itu tidak sama, tetapi kurang lebih begitu. Ini menarik sekali, perbedaan cara berpikir ini menarik sekali. Dan mithologi mereka juga menarik sekali. Sebetulnya dua tradisi yang sangat berbeda. Untung saja sudah ada Sumpah Pemuda hingga mereka juga menjadi bangsa Indonesia. Sehingga bisa menambah kekayaan alternatif bagi kebudayaan kita. Tapi saya tersentuh sekali dengan kenyataan tradisi mereka itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;line-height:119%;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="EN-US"><span> </span>Mungkin, karena pada dasarnya cara memandang dunia atau cara bekerjanya cipta itu juga berbeda. Memang saya kira di dunia ini ada dua cara memandang kehidupan yang berbeda, ada cara bekerjanya cipta yang berbeda. Tidak ditentukan oleh maju-mundurnya peradaban, tapi ya, ditentukan oleh apa ya, saya tidak tahu. Misalnya ada perbedaan antara orang Yunani dan taruh kata orang Mesir. </span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="SV">Meskipun keduanya sama maju. Atau dengan orang Inka, atau orang dari Monyodaro, dari apa, dari India. Sama-sama itu<span> </span>peradaban yang tinggi, tetapi orang Yunani cara bekerjanya cipta itu analitis, dan kausalitis, ada sebab-akibat, lalu cara melihat sesuatu itu dan menganalisa sesuati itu berdasarkan fungsinya yang praktis, realistis. Sedangkan yang satu lagi simbolistis. Cara berpikirnya paralel, tidak kausalistis. Meskipun sampai maju, tapi, kalau dia nggambar itu ya spiral, dengan lambang-lambang toh itu. Sedangkan kalau peradaban yang satu fungsionil. Kalau yang satu bikin rumah penuh lambang-lambang, yang satu fungsionil. Kurang-lebih orang Totaja itu begitu. Kalau orang Jawa bikin pendopo, lalu yang sebetulnya nilainya itu nilai simbol, dipergunakannya hanya beberapa kali saja, kalau ada pengantin atau kalau ada wayangan. </span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="EN-US">Tetapi secara simbol saja semata-mata. Lalu juga ada sentong tengah yang sebenarnya hanya simbol saja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;line-height:119%;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="EN-US"><span> </span>Nah kalau di Toraja, semua bagian rumah itu fungsionil. Simbol-simbol hanya diukirkan saja sebagai dekorasi. Jadi bangunannya fungsionil, tidak simbolistis. Kalau itu ditaruh di atas tanah ya memang itu ada fungsinya, menghindari kelembaban, dan sebagainya, memang begitu. Lalu, dan apa lebih aman dari serangan musuh, dan lain sebagainya. Lalu kalau bikin lumbung, tiangnya harus dari kayu nibung, dari batang kayu nibung, dan digosok halus. Ya itu tidak soal simbol, itu soal fungsi, supaya tikus tidak bisa naik ke atas, licin sekali. Ini cara berpikir yang berbeda betul dengan orang Jawa. Nha, mungkin karena itu juga waktu mereka berpikir secara masyarakatnya ini harus lebih anu dong, lebih sistematis, lebih analitis, jadi harus ada sistemnya, harus ada adatnya, mungkin begitu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="EN-US"><span> </span>Mungkin juga karena itu di dalam peralihan ke dalam jaman moderen mereka itu juga lebih cepat mengadaptir ilmu-ilmu dari barat. Mereka bisa lebih menyesuaikan diri dengan dunia akademis karena cara berpikir yang kausalitis dan analitis itu. Banyak sekali perkapita, mereka, mempunyai, lebih banyak mempunyai lebih banyak sarjana daripada orang Jawa. Dokter bedah spesialis, super spesialis, dan lalu apa insinyur, mereka lebih banyak mempunyainya. Dan juga waktu pemerintah mengadaptir peraturan-peraturan moderen, itu juga asal kena orang adatnya, itu bisa lebih menerima orang itu. Tapi yang diinginkan selalu rakyat itu <em>rule of the game </em>yang pasti. Mereka tidak tahan terhadap sesuatu yang tidak pasti. Mereka itu marah, mereka ngamuk, ngamuk, ngamuk itu artinya mereka mengeluarkan parang, ngamuk gitu, kalau ada sesuatu adat yang kacau, kalau ada sesuatu peraturan yang kacau. </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="SV">Juga, mereka juga misalnya tidak mau mengerti itu bahwa saya ini dilarang. Jadi waktu mereka minta saya baca sajak misalnya, saya bilang “Oh saya itu dilaranag baja sajak!” Lho nggak ini pak Bupati yang bilang, (mungkin maksudnya yang minta). Justru saya bilang pada Pak Bupatinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;line-height:119%;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="SV"><span> </span>“Lho Pak Bupati, ini, saya itu tidak boleh baca sajak, tidak boleh muncul dimuka umum gitu.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;line-height:119%;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="SV"><span> </span>“Ong &#8230; kapan? (Tanya pak Bupati). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;line-height:119%;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="SV"><span> </span>“Ya tidak boleh, sekarang”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;line-height:119%;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="SV"><span> </span>“O tidak apa-apa di sini”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;line-height:119%;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="SV"><span> </span></span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="EN-US">“Ya nanti kalau Bapak kena resikonya bagaimana? Terakhir saya di ITB itu saya diminta untuk baca sajak rektornya ditegur terus tidak jadi, dibatalkan, rektornya tidak berani menanggung resikonya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;line-height:119%;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="EN-US"><span> </span></span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="ES">“Oh ya? Saya tidak diberitahu apa-apa. Dan saya tidak baca apa-apa. Tidak ada itu peraturannya!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;line-height:119%;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="ES"><span> </span>“Lho kalau ada akibat bagaimana?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;line-height:119%;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="ES"><span> </span>“Ini pangkat boleh dicopot.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;line-height:119%;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="ES"><span> </span></span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="PT-BR">Terus dia minta dimuka umum. Saya baca sajak jadinya. </span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="ES">Ya sajak protes saja saya baca dan dia tidak apa-apa. Terus begitu. Di setiap kabupaten, itu kalau Bupatinya minta, saya bilang i &#8230; “nggak papa”, katanya. Malah seorang Walikota Pare-pare itu bawa saya coba naik ke atas. Dan TVRI disana menyiarkan berita tentang saya baca sajak. Terus saya bilang: “Lho &#8230; bagaimana ini?” Saya itu nggak boleh &#8230; saya di <em>black-out </em>oleh tivi. Tidak mungkin itu. Ini kalau nanti ada teguran bagaimana? Ya saya sih seneng-seneng saja tapi ya maksud saya disini ini berlibur, dan saya tidak mau menyulitkan saudara-saudara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;line-height:119%;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="ES"><span> </span></span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="FI">“Yah itu urusan saya kok mas! Dan kalau tidak bisa baca sajak di daerah kami, kami juga siri”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;line-height:119%;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="FI"><span> </span></span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="EN-US">Baru saya berkenalan kemudian dengan apa, kontrol masyarakat<span> </span>yang lain yang namanya itu siri, tanggung-jawab pribadi. Lho misalnya saja ada seorang tuan tanah. Lalu di daerahnya ada seorang yang pakainnya compang-camping, miskin, itu siri. Itu orang bagaimanapun juga tidak boleh terlalu miskin. Pendeknya harus makan. Pada waktu lebaran harus berpakaian baru. Harus begitu. Kalau di Toraja, penggembala kerbau itu harus cukup punya pakaian, harus bisa kesekolah, dengan kata lain dia satu tahun harus dapat seratus lima puluh ribu, dua perangkat pakaian dan beberapa gantang beras. Karena kalau sampai lebih miskin dari itu, siri. Itu merasa: “Oh nggak bener dong!”. Ada solidaritas semacam itu yang bisa dianggap siri. Jadi mereka merasa, lho ini, penyair, ini bisa baca sajak, disini tidak boleh baca sajak karena sesuatu yang kabur. Mereka tidak bisa terima ini. Nggak bisa terima! Jadi karena itu, ya begitu. Katanya TVRI<span> </span>itu ditegor juga. Lalu mereka menyahutnya ya: “Coba dikirim, jangan per-telpon!” jangan per-teleks, tolong dikirim surat yang resmi<span> </span>bahwa Rendra di <em>black-out </em>dari tivi.” </span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="SV">Dan itu tidak pernah terjadi, dan karena itu terus saja.<span> </span>Jadi sebetulnya juga pelarangan saya ini kan<span> </span>juga tidak ada, tidak ada pengumumannya. Saya melihat yang disebut <em>black-list </em>itu, dikasih lihat oleh orang imigrasi: “Lho ini, Pak Rendra ini masuk disini, fotonya ini, jari tangannya ini. Dipakai foto waktu saya dipenjara Guntur itu, dari depan bawa nomer. Nih, nih, Pak Rendra, nih, masuk <em>black-list </em>nih. Ini yang lain, nih!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;line-height:119%;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="SV"><span> </span>Wah setumpuk gitu. Hanya begini saja? Hanya ditelpon<span> </span>jangan, jangan, jangan. Gitu? Apa itu bentuk peraturan atau bentuk adat, jadi seperti tidak ada adat, tidak ada hukum, tidak ada apa-apa. </span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="FI">Itu tidak memuaskan untuk peradaban Sulawesi Selatan. Itu harus ada itu. Mana tertulisnya? Tidak bisa hanya begitu saja! Ini menyentuh perasaan saya. Tentu saja, untuk kemajuan zaman, dan lain sebagainya, perlu dimodernisir. </span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="SV">Masyarakat tradisionil ini perlu ditingkatkan lagi. Jangan hanya mekanis, supaya lebih organis, dan lain sebagainya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;line-height:119%;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="SV"><span> </span></span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="EN-US">Tetapi kenyataan bahwa di Indonesia bahwa ada satu masyarakat dimana adat itu di atas kekuasaan, ini mengharukan saya. Sebab kembali merenungkan sejarah Jawa, sejarah dari peradaban yang sekarang ini menjadi pola kekuasan Republik Indonesia ini, orang Jawa itu, mengenal ada sesuatu yang lebih tinggi dari kekuasaan itu pertama kali hanya pada waktu Islam masuk. Pada waktu feodalisme dan politik agraris yang dijalankan oleh Gajah Mada itu sudah menyesakkan kehidupan orang-orang dagang, orang-orang dagang yang di Tuban itu mulai melarikan diri, dengan kapital dan dengan kapal-kapalnya, mereka pergi ke Malaka dan mendirikan Bandar Malaka. Lalu kekuasaan yang tanpa dukungan <em>comerce</em> dari Majapahit ini mulai runtuh, sementara kekuatan <em>comerce</em> ini membuat kantong kekuasan dan kantong kebudayaan di Demak dan akhirnya mereka mendirikan Kerajaan Demak dengan memeluk ideologi yang baru, Islam, yang menempatkan agama itu di atas kekuasaan. Dan pada waktu akhirnya ada Kerajaan Demak, kasultanan Demak, mereka lalu mulai membuat Dewan Adat, Wali Songo, dan lalu sejak saat itu ada semacam militansi yang baru, militansi yang bebas dari<span> </span>ikatan kasta, militansi yang bebas daripada anarki kekuasaan karena ada sesuatu yang lebih tinggi dari kekuasaan itu, bahkan ada dewan adat yaitu Wali Songo itu. Pada saat semacam itu, kekuasaan kulit putih dari Banten maupun dari Tuban, bisa diusir. Berarti konsolidasi nasional, atau konsolidasi masyarakat waktu itu menjadi kuat sekali justru karena ada sembilan perfektorat atau apa, yang merupakan dewan adat, dan tidak begitu mensentral seperti kebiasaan orang Jawa memerintah. </span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="SV">Mojopahit mensentral. Ini pada waktu begitu mereka malah bisa militan. Kekuasaan Portugis dari Banten dan dari Tuban terusir. Untuk sesaat pulau Jawa betul-betul dalam kedaulatan orang Jawa. Berarti bahwa mobilisasi bisa berjalan dengan lancar, termasuk tidak hanya memobilisasi orang, tetapi mobilisasi logistik bisa lancar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;line-height:119%;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="SV"><span> </span></span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="EN-US">Nah, tetapi setelah kemudian salah satu raja Kesultanan Demak ini, Trenggono ini, mengangkat seorang <em>play-boy </em>menjadi menantunya, Joko Tingkir itu, dan dia ini dari daerah agraris, nalurinya naluri kejawen. Terus dia mulai memindahkan keraton dari Demak ke Pajang. Sudah agak jauh dari pantai, tapi masih di Bengawan Solo. Tapi mulai, pemerintahan agak memberat lagi ke agraris, mulai agak mensentral lagi, dan mulai hubungannya dengan Wali, artinya hubungannya dengan adat kendor. Dan lalu anak angkatnya, Panembahan Senopati yang lalu ke darat lagi, lebih masuk lagi yaitu ke Mentaok, membuka kerajaan baru, dia mulai memisahkan diri betul dengan Wali-wali, terutama cucunya yang bernama Sultan Agung. Merasa mendapat Wahyu Cakraningrat. Artinya, hah, nggak usah wali-wali, saya ini juga rupanya apa, saya ini ngatur spirituil juga. Menurut wahyu saya bagaimana. Yang kalian takuti Nyai Loro Kidul itu malah sudah gua ambil istri toh? Apa lagi? Alam udah jadi istri saya nih. Saya ini roh dan badan sudah saya kuasain. Nggak ada deh wali-wali. Wali-wali ditangkepin. Terakhir Sunan Giri Prapen ditangkap dengan paksa, diambil dikalang di Wonoroto, di Surobayan di daerah Wonoroto. Meninggal ngenes, meninggal sakit hati. Begitulah selesai nggak ada dewan adat, nggak ada apa-apa , kembali lagi ke pola Jawa yang lama, kekuasaan nomer satu. Soal agama nggak ada perlu, adat adalah saya, karena wahyu dari saya. Mulai, pola begini berlangsung-berlangsung, sampai semua jagoan dikalahkan, ya toh? Ki Ageng Mangir dikalahkan, Truno Joyo dikalahkan, satu-satu dikalahkan, dan pada saat itulah mulai Sultan Agung<span> </span>tidak bisa untuk merebut Batavia. Selalu persoalannya itu gagal di tengah jalan, persoalan logistik, mobilisasi manusia dan logistik yang mendapat dukungan dari masyarakat. Dan saya kira terus sampai sekarang, pola begini berulang lagi. Kekuasaan ekonomi dan politik yang mensentral, yang Raja tidak tersentuh oleh undang-undang, raja yang mengatur mulai dari soal-soal rohani sampai jasmani, kembali pola ini berulang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;line-height:119%;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="EN-US"><span> </span>Sebetulnya, pada permulaan abad 19, eh no, pada permulaan abad 20, muncul juga, segolongan orang dalam masyarakat, yaitu orang yang berdagang, yaitu dari Sarekat Dagang Islam, itu mulai dia menuntut juga, pentingnya undang-undang itu. Tulisan yang pertama, mengenai kebutuhan masyarakat akan undang-undang, ditulis di tahun 1909 oleh Haji Umar Said Tjokroaminoto. <em>Rech Person, </em>judulnya, di Darmo Kondo. Salah satu koran lama. Kalau nggak salah Darmo Kondo. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;line-height:119%;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="EN-US"><span> </span>Dia mengatakan, dia menerangkan dulu, apa itu <em>rech, </em>apa itu <em>person, </em>dan mengapa penting sekali, bahwa orang itu mendapatkan perlindungan undang-undang dan undang-undang itu di atas kekuasaan, kenapa itu penting. Jadi ada sesuatu sudah di dalam sejarah ini, dalam sejarah Indonesia ini, sesuatu yang laten ada. Yaitu dari golongan Umat Islam ini, mereka itu menganggap ada yang<span> </span>diatas kekuasaan. Agama! Nah, berkembang pada Islam klas menengah moderen Tjokroaminoto ini. </span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="SV">Undang-undang ni, kita perlu undang-undang nih! Tentu saja waktu itu bersamaan dengan gerakan politik etis di negeri Belanda, undang-undang, undang-undang. Dan lalu bersamaan dengan itu masuknya peradaban barat, sekolah-sekolah moderen, termasuk sekolah Katolik, dan sebagainya, yang juga memperkenalkan ada sesuatu diatas kekuasaan itu. Memperkenalkan pandangan yang analistis, memperkenalkan logika filsafat, dan juga sebagai alternatif dari pandangan yang mitis, dan memperkenalkan ada disiplin masyarakat. Di klas ada disiplin, di masyarakat ada disiplin, undang-undang harus dipatuhi. Nah ini saya kira juga, dua kekuatan ini<span> </span>laten ada dan berkembang. Saya kira sampai sekarang, disamping saya sekarang<span> </span>melihat juga rupa-rupanya ada juga nilai tradisionil yang menempatkan adat, dia atas kekuasan, yaitu di masyarakat Toraja dan Bugis ini. Sebelumnya saya tidak tahu. Sebelumnya ke sana saya tidak tahu. Dari bacaan saya di SMA atau di perguruan tinggi saya tidak pernah membaca kenyataan semacam itu. Dan setelah disana saya melihat lho aneh ini. Nah, bagaimana nanti perkembanganya di masa depan, apakah ada kemungkinan itu berkembang satu kontrol terhadap satu kekuasaan, yah saya tidak tahu bagaimana,. Tetapi kenyataan itu bahwa di dalam masyarakat yang sekarang ini ada gejala masyarakat yang nyata yaitu bahwa golongan Islam itu selalu menghendaki ada yang lebih tinggi dari kekuasan, disamping itu juga ada klas menengah yang sekarang ini berkembangnya hebat, <em>urban middle class</em> ini meningkat, jumlahnya meningkat. Nyata!. Artinya menurut angka nyata. Di Jakarta, di Bandung, di Surabaya, di Ujung Pandang, di Palembang, di Medan, itu nyata. Dan mereka itu tentu saja juga ingin berdagang paling tidak, berdagang lebih maju, artinya, juga bagian alat berproduksi, tidak hanya alat pembagian <em>in-come </em>saja, artinya mereka ingin pembagian alat berproduksi, fasilitas berproduksi, kapital dan sebagainya, tidak bisa itu hanya menyentral di satu tempat saja. Dan mereka juga ingin jaminan. Undang-undang atau apa, sesuatu yang lebih stabil, tidak hanya sekedar usaha mereka tergantung dari kebaikan hati penguasa. Nah mereka ini juga merupakan kekuatan yang akan melakukan perubahan juga, mudah-mudahan, dalam pikiran saya. Bahwa akan tercipta sesuatu yang lebih rasionil, untuk menjadi pegangan bersama di dalam masyarakat ini. </span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="EN-US">Di dalam kita mengembangkan hidup di dalam masyarakat ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;line-height:119%;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="EN-US"><span> </span>Saya kira saya akhiri sekian saja, sangat berbeda dengan ceramah yang pertama yang sangat teratur, saya sekedar nerocos saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;line-height:119%;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;" lang="EN-US"><span> </span>Sekian!</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sekarkedhaton.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sekarkedhaton.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sekarkedhaton.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sekarkedhaton.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sekarkedhaton.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sekarkedhaton.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sekarkedhaton.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sekarkedhaton.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sekarkedhaton.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sekarkedhaton.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sekarkedhaton.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sekarkedhaton.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sekarkedhaton.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sekarkedhaton.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sekarkedhaton.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sekarkedhaton.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sekarkedhaton.wordpress.com&amp;blog=3887498&amp;post=6&amp;subd=sekarkedhaton&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekarkedhaton.wordpress.com/2008/06/05/teori-dan-praktek-kepemimpinan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/72335c123f3da02a2517cd3c0f5365ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sekarkedhaton</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teori dan Praktek Kepemimpinan</title>
		<link>http://sekarkedhaton.wordpress.com/2008/06/05/teori-dan-praktek-kepemimpinan/</link>
		<comments>http://sekarkedhaton.wordpress.com/2008/06/05/teori-dan-praktek-kepemimpinan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2008 12:22:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sekarkedhaton</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kepemimpinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekarkedhaton.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Oleh H. Witdarmono Pr. Saudara-saudara sekalian terima kasih atas semua. Disini yang akan saya tekankan atau gambarkan adalah pengelompokan model-model kepemimpinan secara teoritis. Tentunya dalam praktek lebih berupa campuran dan itu tergantung pada masalah, atau pada isyu. Dan kadang-kadang, model kepemimpinan ini tidak bisa secara tegas diterapkan pada kepemimpinan seseorang atau seorang tokoh Saya mengelompokkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sekarkedhaton.wordpress.com&amp;blog=3887498&amp;post=5&amp;subd=sekarkedhaton&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="FR">Oleh H. Witdarmono Pr.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="FR"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="FR"><span> </span><span style="font-variant:small-caps;">Saudara-saudara</span> sekalian terima kasih atas semua. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="FR"><span> </span>Disini yang akan saya tekankan atau gambarkan adalah pengelompokan model-model kepemimpinan secara teoritis. Tentunya dalam praktek lebih berupa campuran dan itu tergantung pada masalah, atau pada isyu. Dan kadang-kadang,<span> </span>model kepemimpinan ini tidak bisa secara tegas diterapkan pada kepemimpinan seseorang atau seorang tokoh</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="FR"><span> </span></span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US">Saya mengelompokkan dalam 5 model. Yaitu kepemimpinan tradisional, karismatik, klasik, sosial, dan sistematis. Masing-masing kepemimpinan ini mempunyai perhatian utama yang berbeda-beda. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US"><span> </span>Dalam kepemimpinan tradisional, yang diutamakan adalah apa yang sudah ada. Dan apa yang sudah ada itu, sungguh-sungguh mau diteruskan, bahkan kalau bisa diwariskan secera terus-menerus. Jadi apa yang sudah ada, atau keadaan yang sudah ada itulah yang paling penting. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US"><span> </span>Pada kepemimpinan karismatik, yang sungguh-sungguh ditekankan adalah inspirasi yang mungkin timbul mendadak, atau mungkin juga kepekaan intuisi dari orang itu. Itu yang penting. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US"><span> </span>Kepemimpinan klasik biasanya ada dalam kepimimpinan organisasi. Yang penting adalah bagaimana mekanisme organisasi itu berjalan. Sedang pada kepemimpinan sosial, ini yang biasanya disebut kepemimpinan informal, yang ditekankan adalah bagaimana kelompok dimana sang pemimpin itu ada, itu bisa maju bersama-sama. Nanti mungkin bisa dilihat sedikit bahwa dalam kepemimpinan sosial ini unsur demokrasi lebih besar. Sedangkan kepemimpinan yang mengandalkan pada sistem, ini tekanannya adalah bagaimana teknik menggunakan sistem yang tersedia, atau yang diciptakan sehingga cocok dengan segala waktu bahkan juga segala situasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US"><span> </span>Dalam model-model kepemimpinan ini tentu saja mereka memakai langkah-langkah yaitu berorganisasi. Kalau dalam organisasi itu mengadakan proses keputusan, maka tentu saja dalam proses mengambil keputusan itu ada tokoh, sang pemimpin, dan kemudian tentu juga pengawasannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US"><span> </span>Dalam model tradisional konsepsinya adalah bahwa kehidupan manusia dijamin dengan lembaga yang historis seperti misalnya keluarga, negara, kampung, desa, RT, itulah yang dimaksud dengan lembaga-lembaga historis yang menjamin kehidupan manusia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US"><span> </span>Lain dengan pemimpin karismatis. Konsepsi yang mereka lihat adalah, bahwa kehidupan manusia itu sungguh-sungguh sebuah hidup dimana banyak kejutan-kejutan, dimana seperti tarikan-tarikan nafas itu sungguh-sungguh tarikan nafas yang spontan, tarikan nafas yang sangat tergantung pada situasi, kadang-kadang nafasnya menarik secara dalam-dalam hanya kadang tidak sadar.<span> </span>Jadi disini konsepsinya adalah, hidup itu sungguh-sungguh dijalani dengan intuisi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US"><span> </span>Sedangkan yang klasik, konsepsinya adalah bahwa hidup itu seperti mesin. Jadi sudah terpolakan, sudah ada lembaga, sehingga kita tinggal menyalakan generatornya, sehingga mesin ini bisa berjalan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US"><span> </span>Tapi kepemimpinan sosial tekanannya bagaimana hubungan antar anggota itu bisa ada. Itu yang menjadi konsepsi yang paling penting. Jadi mereka tidak peduli terhadap masalah-masalah apakah ini berada dalam struktur atau tidak, yang terpenting adalah bahwa hubungan antar anggota itu sungguh-sungguh hubungan yang hidup. Sedangkan kepemimpinan sistematis, kembali ini hampir seperti kepemimpinan klasik, nadanya atau warnanya hampir sama yaitu seperti mesin. Hanya disini mesin yang bisa sewaktu-waktu diasembling menurut lingkungan ataupun menurut situasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US"><span> </span>Lalu arahnya apa? Arahnya itu menjaga <em>status quo</em>, kalau itu kepemimpinan tradisional, karena yang terpenting adalah apa yang sudah ada ini. Ini jangan digoyahkan, karena merupakan status quo, merupakan keadaan yang tetap, yang harus terus diteruskan, maka arahnya ialah menjaga yang status quo ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US"><span> </span>Sedangkan model karismatis, arahnya adalah lebih karena intuisi memegang peranan yang penting, maka bagaimana mencoba menarik orang untuk tertarik pada intuisi itu. Dan intuisi tentang sebuah persoalan. Maka disini unsur-unsur menggerakkan masa, unsur-unsur provokasi, akan merupakan hal yang sangat penting dalam kepemimpinan karismatis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US"><span> </span>Sedangkan kepemimpinan klasik, ini seperti tadi mesin, kalau ada kerusakan atau kalau ada yang menghambat jalannya mesin, maka dibuang saja, disini yang dipentingkan adalah mesin itu bisa berjalan, apakah itu berarti membuang salah seorang dari kelompok pimpinan, atau membuang anggota, ini tidak terlalu dipentingkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US"><span> </span>Kepemimpinan sosial, arahnya adalah, kembali karena jalinan hubungan antara anggota itu menjadi paling utama, maka yang dijaga adalah kepuasan dari anggota-anggota. Mungkin bisa terjadi bahwa dalam kepemimpinan ini jalannya lambat. Tidak apa. Tetapi asal anggota puas. Sedangkan kepemimpinan sistematis, itu lebih menekankan bagaimana sistem yang ada itu cocok dengan situasi disekitar. Jadi kalau perlu itu ada asembling, kalau perlu ganti mesin, atau diubah, hingga sistem yang ada atau sistem yang dipegang itu bisa cocok dengan lingkungan sekitar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US"><span> </span>Yang tidak kalah pentingnya ialah sumber kehidupan dari kepemimpinan itu. Maksud saya adalah bagaimana kepemimpinan itu bisa tetap berjalan. Untuk sistem model kepemimpinan tradisional yang paling penting adalah apa yang diwariskan. Dalam arti bahwa mereka harus mempunyai sesuatu entah itu yang namanya ideologi, entah itu yang namanya harta benda, entah itu yang namanya gelar, macam-macam, tapi yang dipentingkan adalah harus diciptakan sesuatu yang sifatnya bisa diwariskan. Umpama saja “semangat 45&#8243;. Itu sesuatu yang dipunyai, mungkin kadang-kadang diciptakan, mungkin tidak ada tapi diciptakan agar bisa diwariskan. Nah unsur apa yang diwariskan menjadi penting. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US"><span> </span>Sedangkan untuk model karismatis, disini tidak penting, sejarah tidak penting, yang penting adalah saat sekarang. Pokoknya ada dinamika, ada kepekaan, itulah yang penting, maka disini pemupukan kepekaan, nanti dalam masalah ini bagaimana para pemimpin karismatis itu sangat menekankan kedekatan mungkin dengan arus bawah, supaya kepekaan itu ada, mereka itu nanti sedikit juga banyak melihat kepekaan itu sebagai katakanlah saja sebagai unsur yang paling utama. Sedangkan kepemimpinan klasik, tentu saja disini tekanannya adalah lembaga. Maka dalam kepemimpinan klasik, untuk menjaga supaya lembaga tetap ada, maka ada kecenderungan disini pemusatan dari sistem pengambilan keputusan dalam kepemimpinan klasik ini. Maka disini mereka semakin lama menjadi semacam kelompok elit, yang memimpin. Ini kecenderungan dari kepemimpinan klasik. Karena sumber hidupnya adalah lembaga, maka bagaimana melestarikan lembaga, itu yang paling penting. Sedangkan kepemimpinan sosial, lembaga tidak penting, intuisi tidak penting, tapi yang penting adalah anggota-anggotanya. Bahwa ada orang-orang disitu. Bahwa ada orang-orang yang terikat. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US"><span> </span>Dibandingkan dengan kepemimpinan klasik bisa terjadi bahwa, lembaga tetap ada, mungkin tidak bekerja, tidak apa-apa tetapi harus ada lembaga itu. Sedangkan pada kepemimpinan sosial, tidak perlu lembaga, mungkin sangat informal, tetapi yang penting ialah bahwa ada orang-orang. Sedangkan kepemimpinan sistematis, sumber kehidupan supaya kepemimpinan itu tetap ada, yaitu kemampuan mengatasi perubahan. Jadi sistem itu harus sedemikian rupa sehingga bisa berubah sewaktu-waktu, menurut keadaan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US"><span> </span></span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="SV">Lalu bagaimana hubungan antar anggota. Kalau dalam kepemimpinan tradisional, hubungannya adalah satu, monolit sungguh-sungguh. Dan mereka saling mencakup. Disini pengawasan sangat penting. Lalu juga stabilitas sangat utama. Sedangkan pada kepemimpinan karismatis, yang penting adalah ikatan intuisi. Maka disini diperlukan juga pendobrak-pendobrak yang sungguh peka terhadap keadaan, disini mungkin mereka mengambil orang-orang, pengikut-pengikut dari masa mengambang. Jadi untuk kepemimpinan karismatis itu masa mengambang cukup penting. Dari merekalah itu intuisi-intuisi itu bisa ditarik. Sedangkan dalam kepemimpinan klasik, hubungan atar anggota itu formal, bahkan juga sampai dimana-mana. Ini contoh yang agak sedikit klasik juga, itu dalam pegawai negri. Bahwa hubungan antar anggota itu sungguh-sungguh formal. Sedangkan kepemimpinan sosial, disini tentu saja karena tekanannya adalah kepentingan pribadi, kepuasan pribadi-pribadi, maka hubunganya itu sangat informal. Sedangkan kepemimpinan sistematis, itu memang saling tergantung. Antar anggota saling tergantung. Karena mereka merupakan komponen dalam sistem itu sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="SV"><span> </span>Lalu bagaimana hubungan dengan sekitar. Karena kepemimpinan tradisional sangat menekankan kesatuan, stabilitas, maka juga kalau bisa, lingkungan disekitar itu jangan merusak. Kalau bisa lngkungan disekitar juga distabilkan. Sedangkan kepemimpinan karismatik, tidak perlu. </span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="FI">Bagi mereka, yang menjadi tekanan adalah, ada intuisi-intuisi. Ada reaksi-reaksi spontan. </span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="SV">Dan reaksi spontan itu baru muncul kalau ada semacam ketidakstabilan. Maka disini mereka menonjolkan perubahan. Sedangkan kepemimpinan klasik arahnya adalah agar (hampir sama seperti kepemimpinan tradisional) agar nanti ada keseragaman masal. Tentu ini berbeda sedikit dengan kepemimpinan tradisional, dalam kepemimpinan klasik disitu saya melihat, perubahan-perubahan itu tetap diakui tetapi dilihat sebagai jalan menuju sebuah keseragaman masal, ini dilihat sebagai masyarakat yang ideal. Sedangkan kepemimpinan sosial, lebih-lebih hubungan dengan sekitarnya ialah, agar masing-masing anggota, itu bisa menentukan, bisa memberikan keputusan, bisa membuat penilaian. Maka tekanannya ialah atau hubungan dengan sekitarnya adalah hubungan agar masyarakat menjadi demokratis dan disini ada penekanan juga pada budaya sehingga disini budaya itu menjadi kuat. Sedangkan dalam kepemimpinan sistematis, disini yang menjadi arah atau untuk masyarakat sekitar, adalah mencari kecocokan. Bagaimana masyarakat sekitar itu akhirnya, bisa juga teradaptasi, atau sebaliknya, bahwa kelompok dimana kepemimpinan sistematis jalan, itu juga lama-lama juga bisa cocok dengan masyarakat sekitarnya. Itu tentang organisasi mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="SV"><span> </span>Sedangkan tentang bagaimana mengambil proses keputusan, atau bagaimana jalannya proses keputusan, bisa dilihat dari beberapa masalah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="SV"><span> </span>Dalam mengambil keputusan tentu ada soal-soal pokok yang menyebabkan keputusan itu diambil. Untuk kepemimpinan tradisional tidak ada soal. Karena soal-soalnya itu ya sama terus-menerus. Umpamanya saja orang kadang-kadang beralih ke kepemimpinan tradisional dalam soal-soal yang sama dalam kehidupan manusia. Umpamanya saja perkawinan, kematian, lalu kelahiran, nah disitulah soal-soal yang sama ini diperlukan model-model kepemimpinan tradisional. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="SV"><span> </span>Sedangkan pada kepemimpinan karismatis, tekanannya adalah peristiwa yang kritis. Jadi disini kembali lagi suasana yang dipentingkan adalah bukan suasana yang stabil, tetapi sungguh-sungguh suasana yang kacau balau. Nah disitu, kepemimpinan karismatis melihat soal-soal pokok. Jadi dinamika ini sangat penting atau suasana dinamika sekali lagi sangat penting dalam kepemimpinan karismatis karena dari dinamika itu mereka bisa melihat soal pokoknya yaitu ada masalah-masalah yang kritis. Sedang kepemimpinan klasik, memang soal pokoknya adalah masalah teknis. Yaitu bagaimana menyelesaikan secara efisien. Jadi mereka mendapatkan soal-soal macam-macam tentu saja, tetapi yang dipentingkan adalah bagaimana menyelesaikan persoalan itu secara efisien. Sedangkan soal pokok dari kepemimpinan sosial, adalah sekali lagi kepentingan anggota, jadi tujuan dari kelompok. Disini kelompok menjadi sungguh-sungguh penting. Sedangkan keprihatinan dari kepemimpinan sistematis adalah bagaimana mengadaptasi terhadap perubahan. Bagaimana sistem yang ada ini disesuaikan dengan keadaan-keadaan disekitarnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="SV"><span> </span>Untuk mengambil keputusan tentu saja diperlukan pengertian tentang tujuan. Untuk kepemimpinan tradisional itu diandaikan sudah dimengerti tujuannya. Jadi bagi mereka, tidak ada persoalan<span> </span>masalah bagaimana,<span> </span>atau tidak ada persoalan tentang tujuan, diskusi tentang tujuan tidak ada. Juga dalam kepemimpinan karismatis, tidak ada diskusi tentang tujuan. Karena tokoh karismatik disini, itu sudah mengungkapkan dengan jelas, juga dengan gamblang. Sedangkan kepemimpinan klasik, tujuan lama-kelamaan dilihat sebagai sesuatu yang obyektif. Dalam arti diusahakan agar tujuan ini bisa dilihat secara, saya melihat disini sebagai kuantitatif, bisa diukur. Sehingga anggota-anggota yang dipimpin, itu bisa menelaah, bisa meneliti kembali, bisa juga mengorek-ngorek kembali. Masalah ini tidak menjadi terang dalam kepemimpinan sosial. Untuk sebuah kelompok yang menekankan sebuah kepemimpinan sosial, kita mungkin tidak tahu tujuannya apa secara obyektif. Kita hanya tahu kalau kita sudah masuk disitu. Maka disitu pengertian tentang tujuan itu sungguh-sungguh sesuatu yang subyektif kadang-kadang menjadi sangat esoteris. Kelompok tersebut karena itu ekslusif sekali. Dan disini berdasarkan kebutuhan. Ini mungkin banyak terdapat pada paguyuban-paguyuban. Sedangkan pada kepemimpinan sistematis, tujuan, itu sudah jelas juga. Bahkan juga tujuan dilihat sebagai yang mempersatukan dari kelompok itu.<span> </span>Dan juga disini hampir sama dengan kepemimpinan klasik. Lalu bagaimana kesadaran anggota tentang tujuan ini. </span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US">Tentang proses keputusan itu juga. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US"><span> </span></span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="ES">Pada kepemimpinan tradisional tinggal menerima saja. </span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="FI">Karismatis itu spontan, jadi asal ada kedekatan intuisi mereka mengatakan oke. Sedangkan kepemimpinan klasik, disini sungguh-sungguh diperlihatkan bahwa anggota itu diajak untuk memperhitungkan secara matang. Agar mereka juga masuk ke dalam struktur itu. Dan dalam kepemimpinan sosial, yang dipentingkan adalah <em>sharing</em>. Jadi perasaan-perasaan, karena sekali lagi disini masalah-masalah subyektif menjadi sangat penting. Dan hampir sama dengan kepemimpinan klasik, kepemimpinan sistematis disitu kesadaran anggota sungguh-sungguh cukup matang. Lalu bagaimana dalam mengambil keputusan itu sikap mereka terhadap yang lama dan yang baru. Bagi yang tradisional yang ada adalah yang lama, yang baru itu merupakan pelurusan dari yang lama. Sekali lagi disini proses pengulangan,<span> </span>kesadaran akan sejarah, atau pengulangan sejarah itu sangat penting. </span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="SV">Berbeda dengan kepemimpinan karismatis, bagi mereka yang lama tidak penting. Yang baik, karena ini sangat mengandalkan pada intuisi-intuisi spontan, yang penting adalah selalu memunculkan sesuatu yang baru, isyu yang baru, isyu-isyu yang khas, mungkin cuma bahasanya, mungkin cuma pengungkapannya, tetapi yang penting adalah bahwa ada kekhususan ada kebaharuan. Contoh yang agak sedikit klasik juga itu istilah orde lama-orde baru. Isinya ungkin sama saja tetapi karena memakai istilah “baru” itu saja, semua yang dicap orla sekaligus menjadi jelek. Tetapi dalam masalah kepemimpinan karismatik, yaitu bahwa mereka tidak bisa diramal. Akan apa, jadi dibutuhkan kejutan-kejutan. Mungkin kadang-kadang pak Domo disini tidak bisa diramal. Itu contoh kecil. Kepemimpinan klasik, disini yang khas, yang dicari adalah yang khas, tapi ada alasan-alasan.<span> </span>Disini kembali ke masalah pengertian tentang tujuan bahwa kepemimpinan klasik, ada kebaruan tetapi juga kebaruan yang obyektif, yang bisa diukur. Sedangkan dalam kepemimpinan sosial, masalah yang lama dan yang baru, jadi sikap terhadap lama dan yang baru itu sungguh-sungguh didasarkan atas kebutuhan, disini hampir sama adalah dengan kepemimpinan karismatik. Bagaimana mereka itu melihat kebutuhan. Sedangkan kepemimpinan sistematis, karena tekanannya adalah pada sistem, jadi berjalannya sistem itu, maka disini penerusan dari yang lama, tentu saja juga dengan arah untuk perubahan-perubahan menurut situasi, penerusan terhadap yang lama lalu menjadi penting. Lalu bagaimana munculnya proses keputusan itu. Kalau kepemimpinan tradisional<span> </span>ini sudah kebiasaannya, bahwa nanti orang tua yang akan menentukan bahkan sudah rutin, bahwa kelompok ini atau kelompok itu yang memutuskan. Sedangkan pada karismatis tentu saja itu siapa yang dulu, siapa yang paling intuitif, siapa yang paling cepat, paling peka terhadap keadaan. Sedangkan kepemimpinan klasik munculnya itu dengan perintah dan dengan peraturan yang bisa diuji yang bisa diukur. Sedangkan kepemimpinan sosial, disini tidak tentu. Tergantung dari konsensus kelompok. Ini kadang-kadang dipakai tentu saja dalam kelompok-kelompok paguyuban, kelompok sosial yang non pemerintah. Bahwa kemajuan-kemajuan tergantung dari konsesnsus kelompok. Munculnya keputusan-keputusan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="SV"><span> </span>Sedangkan kepemimpinan sistematis, karena yang menguasai sistem adalah para ahli, teknokrat, maka disini munculnya keputusan itu dari inisiatif para ahli. </span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US">Lalu bagaimana menyalurkan keputusan itu sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US"><span> </span>Kepemimpinan tradisional menyalurkannya melalui pewaris-pewaris. Jadi tekanannya adalah siapa yang sekarang disebut pewaris-pewaris. Sedangkan kepemimpinan karismatis, tidak peduli kepada pewaris-pewaris, yang penting siapa yang perlu atau siapa yang suka kalau mau ambil silakan. Sedangkan penyaluran dalam kepemimpinan klasik, itu sungguh-sungguh dengan <em>job discription </em>umpama saja, dengan petunjuk yang mendetail dan juga terperinci. Sedangkan kepemimpinan sosial itu sungguh-sungguh dengan sharing. Jadi bagaimana bertukar pikiran itu merupakan penyaluran dari keputusan-keputusan. Ini kadang-kadang juga kelihatan dalam proses konsensus yang ada pada beberapa kelompok sosial Jepang misalnya. Lalu penyaluran dalam kepemimpinan sistematis, disini yang ditekankan penyalurannya yaitu oleh pimpinan. </span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="FI">Oleh pimpinan yang menafsirkan. Tentu saja ada reaksi terhadap keputusan itu. Kalau reaksi dari kepemimpinan tradisional, begitulah <em>take for granted</em> jadi begitulah kenyataannya tidak bisa diubah-ubah. Jadi tinggal terima saja. Sedangkan karismatis itu ada unsur penolakan ada unsur kritis juga, dikatakan sejauh menyetujui intuisi. Kalau tidak ada, ya tidak setuju. Sedangkan kepemimpinan klasik, sebetulnya dengan adanya petunjuk, dengan adanya perintah, dengan adanya perhitungan, itu sebetulnya ada pemaksaan, meskipun halus. Sedangkan pada kepemimpinan sosial, karena disini ada tukar pikiran, maka reaksi yang diminta adalah partisipasi. Dan kepemimpinan sistematis adalah bagaimana menyesuaikan dengan keputusan-keputusan itu sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="FI"><span> </span></span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US">Mungkin yang jadi penting adalah juga sang pemimpin. Bagaimana sang pemimpin itu wataknya dan juga fungsinya. Tentu saja untuk kepemimpinan tradisional, karena yang dipentingkan adalah apa yang diwariskan, maka tentu saja yang tua, yang makan garam lebih banyak itu yang dominan. Dan juga yang bijaksana atau yang diangkat sebagai Sang Bijaksana. Atau juga mungkin yang dianggap suci, atau yang dikeramatkan atau dimitoskan, itu juga bisa. Maka dalam kepemimpinan tradisional orang-orang yang dilihat secara moril cukup kuat. “Moril” dalam tanda kutip tentu saja. Yang sama juga dalam kepemimpinan karismatik, disini orang yang menonjol yang punya karisma, mempunyai sesuatu yang khusus, tentu saja<span> </span>disini tentang<span> </span>masalah intuisi yang kuat, masalah kepekaan yang kuat, lalu yang mendapat wahyu, yang mendapat ilham, itulah yang dominan. Sedangkan kepemimpinan klasik, karena disini cukup sistematik terjadinya, maka<span> </span>yang ditekankan adalah yang agresif, yang siapa dulu siapa menang, danjuga<span> </span>tentu saja yang kuat. Disini mulai sebetulnya dengan kepemimpinan yang klasik ini, pemimpin dilihat dari kemampuan teknisnya. Sedangkan pada model tradisional dan karismatis, yang dilihat adalah moral dari pemimpin, sedangkan disini, lebih pada kemampuan teknis, jadi kepemimpinan sebagai kemampuan teknis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US"><span> </span>Berbeda dengan kepemimpinan sosial. Orang-orang yang dominan adalah yang sensitif. Dan juga yang berbudaya. Ini hampir sama dengan kepemimpinan karismatis, tetapi pada kepemimpinan sosial, yang sensitif, yang berbudaya, karena mempunyai kebudayaan, saya lihat lebih stabil, lebih langgeng, lebih lama dari yang karismatis. Sedangkan kepemimpinan yang sistematis yang dominan adalah, mereka yang ahli. Disini hampir sama dengan kepemimpinan klasik, disini yang ahli dengan sendirinya menjadi elit. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US"><span> </span>Apa fungsi dari para pemimpin itu. Untuk pemimpin tradisional ia menjadi penafsir, dan penterjemah, dan juga menjadi penjaga tradisi. Jadi kalau ada orang yang mengatakan saya adalah penjaga Pancasila, maka sebenarnya ia sudah beralih ke kepemimpinan tradisional. Sedangkan kepemimpinan karismatis, itu fungsinya adalah sebagai nabi. Yang bicara tentang masa depan, yang mungkin tidak pasti. Yang mungkin menolak <em>status quo.</em> Dan juga sebagai inspirator. Jadi dia fungsinya bisa hanya sebagai busi saja, jadi menyalakan, sesudah itu seakan-akan tidak berfungsi lagi atau mungkin fungsinya hanya sekali menyalakan sesudah itu mundur. Sedangkan kepemimpinan klasik, disini ada pemaksaaan, maksudnya ada petunjuk, maka disini sungguh-sunguh ada pengarahan. Dan ada tekanan pada pengawasan juga. Sedangkan kepemimpinan sosial itu hanya membuat mudah, fasilitator, membuat kemudahan saja. Disini tidak ada pemaksaan fungsinya, tetapi lebih menganjurkan, dia lebih membuat suasana orang mudah berbuat sesuatu, mudah berbuat yang dituju oleh kelompok. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US"><span> </span>Sedangkan pemimpin sistematis, disini tekanannya adalah menterjemahkan lingkungan, jadi disini ada kombinasi dari kepemimpinan karismatis, menjelaskan tujuan dan juga perubahan. Jadi disini juga ada kombinasi dengan kepemimpinan klasik. Karena sekali lagi disini tekanannya ialah bagaimana sistem yang ada bisa cocok dengan keadaan. Sedangkan untuk pengawasannya, sekali lagi kepemimpinan tradisional yang perlu adalah tradisi itu sendiri. Bahwa tradisi itu ada, maka diperlukan penghidupan tradisi. Jadi kuatnya tradisi itu yang menjadi utama. </span><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="FI">Upama saja sekarang Hari Kartini. Jadi untuk membuat kesan bahwa ada Hari Kartini, maka anak-anak TK pakai kain. Jadi tradisi Hari Kartini adalah pakai kain. Untuk menekankan, itu pertanda bahwa ada hari Kartini. Jadi tradisi pakai kain dianggap sebagai faktor pokok untuk memberi pengawasan bahwa Hari Kartini itu dirayakan. Atau lagu Ibu Kita Kartini. Keponakan saya itu semua nyanyi Ibu Kita Kartini hari ini. Karena itu berarti sekolahnya itu merayakan Hari Kartini. Atau setiap tanggal 17 pakai pakaian KORPRI. Bahwa disitu ada apel KORPRI itu untuk menunjukkan bahwa tradisi tanggal 17 tetap ada. Nah sedangkan kepemimpinan karismatis, disini dalam pengawasan, untuk pengawasannya sekali lagi hanya tergantung dari intuisi. Ya kalau itu cocok, maka ya diterima. Maka kepekaan terhadap situasi, itu sangat penting. Dan seorang pemimpin karismatis, bagaimana ia mengawasi apakah kepemimpinannya masih ada, yaitu dia harus melihat apakah masa yang disekitarnya masih banyak atau tidak. Begitu masa itu berkurang, maka kepemimpinannya itu mulai pudar. Kepemimpinan yang klasik, pengawasannya adalah standar yang jelas. Jadi ada kerangka yang jelas. Yang sudah ditentukan dari atas. Jadi kalau cocok dengan standar itu, tidak nyleweng, maka disitu kepemimpinan itu berjalan dengan baik. Sedangkan kepemimpinan sosial itu bilamana tumbuh rasa tanggung-jawab pribadi dari masing-masing anggota kalau disitu sungguh-sungguh ada tanggung jawab pribadi yang sungguh-sungguh kuat, maka bisa dikatakan disitu kepemimpinan sosial itu berhasil. Sedangkan kepemimpinan sistematis, faktor yang pokok dalam pengawasan agar kepemimpinan itu berlangsung, yaitu kehadiran ahli-ahli. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="FI"><span> </span>Saudara-saudara sekalian, ini tentu saja pengelompokan teoritis. Dalam prakteknya mungkin orang berubah banyak ataupun juga bercampur banyak. Secara sepintas saya mencoba untuk melihat keadaan di Jakarta dengan melihat kepemimpinan sebagai sebuah kesanggupan, kesanggupan untuk menggerakkan sekelompok manusia. Kemana? Ke sebuah arah! Dan arah yang merupakan tujuan bersama. Dan disitu diperlukan juga daya-daya atau boleh dikatakan juga alat-alat alamiah tapi juga alat-alat yang berhubungan dengan materi, dan juga berhubungan dengan rohani. Dan alat-alat atau daya-daya itu juga, itu ada pada kelompok itu sendiri. Maka saya bisa mengumpamakan, kepemimpinan itu sebagai sebuah jalan. Dimana di situ ada arah, ada gerak, bahkan juga ada unsur-unsur interaksi kelompok. Dan karena itu saya bisa melihat umpama saja dalam Jakarta ini, kepemimpinan saya umpamakan dengan penglihatan terhadap jalan-jalan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="FI"><span> </span>Ada model kepemimpinan bis kota. Mengapa dikatakan kepemimpinan bis kota? Karena bis kota itu mengandalkan kekuatan. Dan daya tariknya adalah apa. Bisa mengangkut banyak, dan dia berada di jalan protokol. Itu ada model kepemimpinan yang semacam itu. Dia punya kekuatan, besar, jadi mungkin disini kepemimpinan klasik disitu kadang-kadang ada. Lalu dia juga menentukan banyak. Namun, dalam kepemimpinan bis kota ini, yang dipentingkan adalah tujuan. Bahwa dia sampai ke tujuan itu. Apakah itu merusak jalan, apakah itu merusak lingkungan, apakah itu merusak keadaan, tidak dihiraukan. Apakah itu merusak penumpang, membuat penumpang terkejut atau terhimpit, tidak jadi soal, Yang penting adalah tujuan. Nah disitu kepemimpinan model bis kota saya lihat yang mengandalkan kekuatan, dan mengarah pada tujuan sebagai yang paling utama, tanpa memperhitungkan sarana-sarananya, mungkin juga ada di kota kita. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;line-height:119%;text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:119%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="FI"><span> </span>Lalu ada juga kepemimpinan, katakan kepemimpinan bajay. Maksudnya kepemimpinan bajay ini apa, Kepemimpinan bajay ini di satu pihak sangat memperhatikan penumpangnya. Maksudnya bahwa penumpang itu mendapatkan prioritas utama. Apakah itu menggeser orang lain, yang penting adalah penumpang sebagai raja. Jadi kadang-kadang kita lihat bagaimana bajay itu ketika ada penumpang mengacungkan tangan, padahal calon penumpang ada di sebelah kanan, maka dengan enak saja ia memotong. Tetapi dia mempunyai kekuatan. Yaitu justru kemiskinannya. Orang jarang menubruk bajay, karena kalau nubruk mungkin rugi sendiri. Suruh bayar mereka tidak kuat. Ini mungkin model kepemimpinan dari apakah itu pengusaha kecil atau pedagang kali lima, yang bagi mereka, mereka tahu bahwa pembeli adalah raja. Tetapi mereka juga kuat. Kuat dalam arti karena mereka miskin. Kemiskinan itu membuat kekuatan. Nah disini saya lihat juga bahwa dalam kelompok masyarakat ada semacam kepemimpinan bajay. Jadi orang yang miskin, jadi karena kemiskinannya, ia ditakuti, bukan ditakuti karena senjatanya, tapi ditakuti karena toh kalau diapa-apakan tidak bisa membayar, tidak bisa membalas, tidak bisa apa-apa. Tetapi justru mereka bisa merugikan. </span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-.1pt;" lang="FI"><span> </span>Lalu juga ada kepemimpinan semacam kepemimpinan becak. Kepemimpinan becak merupakan kombinasi kepemimpinan bis kota. Mereka kuat. Karena becak dibuat dari besi. Jadi mobil-mobil bagus takut kepada becak. Tetapi mereka juga miskin. Jadi kombinasi dengan kepemimpinan bajay. Jadi mereka juga mempunyai kekuatan, jadi besinya itu, tapi mereka juga mempunyai kekuatan yang lain yaitu kemiskinannya. Tetapi mereka mementingkan penumpang. Dalam arti bahwa penumpang itu sungguh-sungguh jadi raja. Dalam arti bahwa penumpang itu selalu diajak untuk selalu disapa untuk naik. Jadi inilah beberapa penggambaran kecil saja, dalam masalah-masalah kepemimpinan yang dalam prakteknya kadang-kadang bercampur-campur. Masih banyak dalam lalu lintas umum dimana model-model kepemimpinan itu juga bisa dilihat kepemimpinan mikrolet. Tidak pernah ada penumpang mikrolet yang berdiri. Jadi selalu diberi tempat duduk. Lalu mungkin kepemimpinan metro mini. Yang disitu bagi mereka adalah kegesitan itu merupakan kepentingan dan kesukuan itu menjadi yang utama. Jadi disitu saya melihat ada beberapa hal toh juga ada mentalitas-mentalitas kepemimpinan dari kendaraan umum itu yang ada di dalam masyarakat kita. Inilah model-model teoritis mungkin, tapi model-model yang mungkin banyak terlihat dalam kepemimpinan-kepemimpinan, pribadi-pribadi orang-orang yang ada di sekitar kita.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sekarkedhaton.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sekarkedhaton.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sekarkedhaton.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sekarkedhaton.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sekarkedhaton.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sekarkedhaton.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sekarkedhaton.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sekarkedhaton.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sekarkedhaton.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sekarkedhaton.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sekarkedhaton.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sekarkedhaton.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sekarkedhaton.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sekarkedhaton.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sekarkedhaton.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sekarkedhaton.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sekarkedhaton.wordpress.com&amp;blog=3887498&amp;post=5&amp;subd=sekarkedhaton&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekarkedhaton.wordpress.com/2008/06/05/teori-dan-praktek-kepemimpinan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/72335c123f3da02a2517cd3c0f5365ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sekarkedhaton</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kata Pengantar</title>
		<link>http://sekarkedhaton.wordpress.com/2008/06/05/kata-pengantar/</link>
		<comments>http://sekarkedhaton.wordpress.com/2008/06/05/kata-pengantar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2008 12:20:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sekarkedhaton</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kepemimpinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekarkedhaton.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Substansi kunci kehidupan sebuah organisasi adalah interaksi dan komunikasi antara orang-orangnya. Kemampuan sensori dari seorang manusia yang sedang mem-being, amat sangat sensitif, indah, dan sangat luas. Kemampuan kita untuk merasakan dan mengerti akan dunia di sekeliling kita, menyimpannya sebagai informasi, lalu memanggilnya kembali, dan meneruskannya kepada orang lain, merupakan persemaian bagi kita untuk mengembangkan peradaban [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sekarkedhaton.wordpress.com&amp;blog=3887498&amp;post=4&amp;subd=sekarkedhaton&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;font-variant:small-caps;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US">Substansi</span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"> kunci kehidupan sebuah organisasi adalah interaksi dan komunikasi antara orang-orangnya. Kemampuan sensori dari seorang manusia yang sedang mem-<em>being</em>, amat sangat sensitif, indah, dan sangat luas. Kemampuan kita untuk merasakan dan mengerti akan dunia di sekeliling kita, menyimpannya sebagai informasi, lalu memanggilnya kembali, dan meneruskannya kepada orang lain, merupakan persemaian bagi kita untuk mengembangkan peradaban yang <em>sophisticated</em> seperti yang telah menjadi pengalaman kita sampai hari ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"><span> </span>Proses komunikasi antara manusia, melibatkan seluruh perasaannya seperti</span><span style="font-size:12pt;font-family:Symbol;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"><span>¾</span></span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US">pendengaran, penglihatan, penciuman, dan pengecapan</span><span style="font-size:12pt;font-family:Symbol;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"><span>¾</span></span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US">dan, mungkin juga mengikutsertakan persepsi <em>extra-sensory</em> lainnya yang tidak bisa dipungkiri. Dalam komunikasi antar manusia, perasaan-perasaan tersebut digunakan secara simultan dalam mengendalikan respon-respon. Dengan kata lain komunikasi antar manusia dapat didefinisikan atau dianalisa <em>via</em> konsep transaksi, yaitu: Saya “mengatakan” sesuatu kepada Anda secara verbal maupun non-verbal; Anda “mengatakan” sesuatu kepada saya secara verbal maupun non-verbal. Perasaan manusia, pikiran manusia, dan perlilakunya mencerminkan jati dirinya sendiri ketika berkomunikasi dengan manusia lain. </span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="FI">Dan sesungguhnya, bisa juga kita lihat dalam diri kita sendiri ketika kita melakukan transaksi internal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="FI"><span> </span>Fenomena ini akan menjadi menarik manakala menjelma menjadi perasaan, pikiran, dan perilaku <em>massa.</em> Oleh karenanya perlu sebuah pemetaan guna memilah-milah unsur-unsurnya agar memudahkan manusia itu sendiri dalam menanganinya. Tidak ada cara lain kecuali kita harus menetapkan pola-pola yang siap merespon masa depan, karena siklus kausalitas kehidupan manusia rupanya sudah final dan hanya akan mengulang-ulang<span> </span>pola yang sama. Hal mengulang pola ini akan lebih tampak jelas lagi seperti yang diuraikan oleh Popper, yaitu bahwa hidup ini pada dasarnya adalah “<em>problem solving”</em> itu sendiri. Epistemologi obyektif sebagai bagian dari ilmu filsafat yang membahas tentang asal-usul, cukup gamblang dalam menjelaskan fallibilitas manusia. Epistemologi obyektif ini muncul, karena sejak Descartes, teori pengetahuan dikuasai oleh kecenderungan subyektif, yang mendekati pengetahuan dari pengalaman pribadi. Dan Popper adalah salah seorang filsuf yang bereaksi keras terhadap pendekatan psikologis model Heinrich Gomprez, seorang profesor, filsuf profesional, dan dosen filsafat itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="FI"><span> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="SV">Menurut Popper, data inderawi atau kesan sederhana itu tidak ada. Itu semua hanyalah khayalan yang keliru untuk mengalihkan atomisme dari fisika ke psikologi. Kita tidak berpikir dalam citra-citra, melainkan dalam istilah problem-problem dan <em>solusi tentatif</em> atasnya. Studi logika lebih penting daripada studi mengenai proses pemikiran subyektif. Kalau dunia obyektif merupakan produk akal budi</span><span style="font-size:12pt;font-family:Symbol;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"><span>¾</span></span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="SV">maka sikap <em>act of faith</em></span><span style="font-size:12pt;font-family:Symbol;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"><span>¾</span></span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="SV">kepercayaan pada akal, menjadi penting. Dan rasionalisme yang diperjuangkan oleh Popper bersifat jatmika, <em>modest</em>, kritis terhadap diri sendiri. Itulah Kejatmikaan Intelektual. Dengan ini pula Popper menegaskan, bahwa bukan hanya proses belajar saja yang bersifat <em>problem solving</em>, melainkan juga hidup itu sendiri. Hidup</span><span style="font-size:12pt;font-family:Symbol;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"><span>¾</span></span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="SV">nilai</span><span style="font-size:12pt;font-family:Symbol;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"><span>¾</span></span><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="SV">problem solving</span></em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="SV">, saling bertemu dalam asal-usul. Dalam segala benda hidup, dari sejak lahir, tertanam suatu kecenderungan untuk membuat hipotesa. Inilah yang mendorong Popper mengembangkan metoda <em>problem solving</em> yang digunakan oleh seluruh organisme hidup dalam proses adaptasi. Hal ini jualah yang membuat Popper semakin ragu mengenai thesis Marx tentang sejarah, Freud tentang psikoanalisa, dan Alfred Adler tentang psiko individual. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="SV"><span> </span>Kalau demikian halnya, maka segala bentuk proses kehidupan dengan sendirinya memerlukan kepemimpinan. Kepemimpinan untuk menjadi <em>pioneer</em>, kepemimpinan untuk <em>memecahkan masalah</em>, dan kepemimpinan untuk <em>menemukan inspirasi-inspirasi baru yang otentik dan maju</em>. Mengenai hal ini, Pierre Teilhard de Chardin, dalam <em>The Phenomenon of Man </em>(New York; Harper; 1961) mengatakan: “Kemungkinan yang satu ialah tertutupnya alam semesta ini bagi masa depan kemanusiaan, yang berarti bahwa daya-pikir manusia, yang merupakan hasil usaha selama jutaan tahun itu, menjadi lumpuh, mati, dalam sebuah alam semesta yang tidak mempunyai makna apa-apa. Kemungkinan yang lainnya ialah terbukanya sebuah jalan &#8230;”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="SV"><span> </span><span> </span>Tesis tersebut membawa kita ke sebuah penjelajahan baru guna memberikan makna dan bentuk yang lebih fenomenologis pada konsep kepemimpinan. Artinya, bahwa kepemimpinan kita perlukan adalah ya, tetapi dalam konsep dan konteks yang mau tidak mau untuk memecahkan masalah. Karenanyalah kepemimpinan yang menggejala bukan sekadar atribut yang menempel pada individu sang pemimpin, melainkan berupa bahasa sebagai penjelmaan hasil usaha untuk beradaptasi. Konkretnya, kepemimpinan adalah bahasa itu sendiri. Buhler, profesor psikologi di Universitas Wina, membagi tiga tingkat fungsi bahasa: fungsi <em>ekspresif</em>, fungsi <em>stimulatif</em>, dan fungsi <em>deskriptif</em>. Lalu kelak, Popper menambahkan satu fungsi lagi yaitu fungsi <em>argumentatif</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="SV"><span> </span>Jadi jika kepemimpinan adalah bahasa, maka kepemimpinan baru bisa tampak kalau ia telah menjelma sebagai ekspresi yang menggambarkan kebutuhan, keinginan, dan harapan dari sebuah komunitas. Ia akan melahirkan gerak yang menyediakan dinamika demi dinamika. Namun gerak tersebut bisa berhenti manakala tidak terus-menerus diberi rangsangan-rangsangan baru. Itulah fungsi kedua dari kepemimpinan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="SV"><span> </span>Akan tetapi dalam proses perjalanan menemukan dan memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan, kadang manusia mengalami kemandegan, kebuntuan, dan ketakberdayaan. Disinilah kepemimpinan membawa fungsi untuk mendeskripsikan keadaan dengan segala unsur-unsur yang mempengaruhinya. Lalu bagaimana pula deskripsi tentang peluang masa depan berikut strategi dan taktik untuk mewujudkannya? Seluruh proses tersebut akan saling bertemu dalam asal-usul, dan tentu saja setelah melewati sebuah ujian melalui praktek fungsi argumentatif dari kepemimpinan itu sendiri.<span> </span>Pada tahap inilah kepemimpinan harus menampakkan halnya baik yang <em>esoterik</em> maupun yang <em>eksoterik</em>. Karena tanpanya, kepemimpinan hanyalah slogan, hanyalah jargon yang lahir dari sikap <em>“kejumawaan intelektual”. </em>Padahal kepemimpinan adalah merupakan sebuah perilaku dari hasil sikap <em>“kejatmikaan intelektual”</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="SV"><span> </span>Inilah yang menjadi alasan kuat bagi Noel M. Tichy, dalam <em>The Leadership Engine, </em>untuk secara tegas menekankan bahwa seorang pemimpin yang berhasil haruslah menjalankan fungsi dan peran belajar dan mengajar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="SV"><span> </span></span><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;font-variant:small-caps;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US">Leadership and the Teachable Point of View</span></span></strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"><span> </span><strong>Great Leaders Are Great Teacher</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:89.85pt;text-align:justify;text-indent:-17.85pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US">They accomplish their goals through the people they teach</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;margin:0 0 7.15pt 72pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Symbol;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US">They teach others to be leaders, not followers</span></em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"><span> </span><strong>Winning Leaders Make Teaching a Personal Priority</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:89.85pt;text-align:justify;text-indent:-17.85pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US">They consider teaching one of their primary roles</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;margin:0 0 7.15pt 72pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Symbol;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US">They use every opportunity to learn and to teach</span></em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"><span> </span><strong>Winners Have a “Teachable Point of View”</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:89.85pt;text-align:justify;text-indent:-17.85pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US">They have clear ideas and values, based on knowledge and experience</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0;margin:0 0 7.15pt 72pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US">They articulate those lessons to others</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"><span> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US">Jadi jelaslah sekarang, kepemimpinan menjadi unsur terpenting untuk menguraikan dan menjelaskan dinamika kehidupan manusia dalam masyarakatnya. Dengan demikian, maka kepemimpinan tidak bisa hanya dipandang sebagai bahasa melainkan juga sebagai seni, seni memimpin. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"><span> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="IT">Kata “seni” sendiri telah diberi makna banyak. Dalam mukadimahnya pada Drama “Cromwell”, Victor Hugo (1827) penyair dari Perancis itu, menulis: <em>“Seni itu suatu tinjauan, suatu lensa. Semua yang terdapat di dunia dapat dan harus dicerminkan di dalamnya. Dengan tongkat wasiatnya, seni, membongkar kembali sejarah, seni memberikan bentuk yang serentak bersifat puitis dan alami, mengisinya dengan unsur-unsur kebenaran serta kejayaan yang melahirkan ilusi &#8230; ilusi yang membangkitkan semangat para penikmat”.</em><span> </span>Jadi seni, adalah nilai estetis yang sublim. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="IT"><span> </span>Namun pada abad lampau John Lubbock juga pernah membuat deklarasi tentang seni: <em>“art is unquestionably one of the purest and highest elements in human happiness. </em></span><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US">It trains the mind through the eye and the eye through the mind. As the sun colors flowers, so does art color life”.</span></em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"><span> </span>Bahkan Charles B. Fairbanks juga punya klaim yang tak kalah oke: <em>“art is the surest and safest civilizer. Open your galleries of art to the people and you confer on them a greater benefit than mere book education; you give them a refinement to which they would otherwise be starngers.”</em><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="EN-US"><span> </span>Dari klaim-klaim di atas itu tadi, seakan-akan kepemimpinan dituntut untuk mengejawantahkan beberapa nilai sekaligus. Barangkali bolehlah disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah merangkum peranannya sebagai bahasa seni sekaligus seni bahasa. Kelihatannya memang justru agak mengaburkan. Kepemimpinan harus mampu memperteguh bentuknya melalui bahasa, dan memperteguh spiritualnya melalui seni. Dengan demikian kepemimpinan tidak lagi dilihat dari unsur <em>esoterik</em> saja, tetapi juga harus mewujud dalam <em>eksoterik</em>nya. </span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="SV">Antara <em>bentuk</em> dan <em>roh</em> saling melengkapi. Antara <em>jiwa</em> dan <em>badan</em> saling <em>“angemuli”. </em><span> </span>Prinsip ini tidak mau tidak harus diterima sebagai paradigma, meskipun pemahamannya haruslah melalui praktek. Sebab sesungguhnya, suatu bentuk kepemimpinan baru akan tampak dalam praktek. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="SV"><span> </span>Harapan ini jualah yang membuat kami, pada sekitar tahun ‘80-an atau ‘81, saya sendiri sudah lupa kapan tepatnya, menyelenggarakan diskusi tentang model-model kepemimpinan dalam rangka memperingati Hari Kartini. Waktu itu tak jelas benar apa yang ingin kami dapatkan dari diskusi tersebut. Lalu kami putuskan dua nara sumber sebagai pelontar gagasan. Pater H. Witdarmono Pr., waktu itu adalah Romo Muda di Keuskupan Agung Jakarta yang tengah giat-giatnya mengembangkan kerasulan kaum muda. Dari seorang Romo Muda yang sederhana itulah, yang selalu bercelana jean, berbaju lengan pendek dengan ransel hijaunya yang setia menemani naik-turun bis kota, kami harapkan bisa menggali pengalamannya sehari-hari yang lebih otentik. Sedang Mas Willy, waktu itu masih dalam status cekal tidak boleh tampil di muka umum. Tetapi saya berhasil menculiknya dari rumahnya di daerah Tomang waktu itu, dan ia akhirnya toh mau bicara tentang pengalamannya juga. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="SV"><span> </span>Untungnya, waktu itu salah seorang panitia ada yang berinisiatif merekam kedua pembicara. Sehingga ada dokumentasi yang otentik tentang apa yang didiskusikan. Dokumentasi rekaman tersebut tersimpan tercampur dengan<span> </span>kaset-kaset lain dan sudah berpindah-pindah rumah sebanyak 7 kali tanpa tersentuh, dan baru setelah 17 tahun kemudian, persisnya tanggal 25 Oktober 1998, ada gagasan untuk mentranskrip rekaman tersebut kedalam teks untuk diterbitkan sebagai Kado Ulang Tahun untuk Rendra, 7 November 1998. Untuk mewujudkan itu semua saya harus begadang karena kewajiban akhir tahun saya begitu banyak dan menumpuk. Akhirnya kerja keras tersebut selesai sudah. Dan untuk itu saya masih harus membuat kata pengantarnya agar kedua persepsi tentang model kepemimpinan tadi mendapatkan kerangkanya yang pas, dan bertemu dalam asal-usulnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="SV"><span> </span>Membaca transkrip tersebut amatlah menyenangkan. Karena apa yang diuraikan secara skematis oleh Pater H. Witdarmono ternyata sangat berguna untuk memotret model-model kepemimpinan dan organisasi yang ada di Indonesia dan masih relefan hingga hari ini. Paling tidak, skema tersebut sangat memudahkan kita untuk memberi deskripsi tentang wacana yang digunakan oleh kelompok-kelompok yang hidup di Indonesia dalam rangka berbangsa dan bernegara. Sehingga bisa dipetik manfaat agar jika siapapun menjadi pemimpin bisa menghindari hal yang merugikan dan mengambil hal yang menguntungkan semua pihak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="SV"><span> </span>Ihwal yang digambarkan oleh Rendra, yaitu paradoks tentang nilai dalam wajah dua kebudayaan: <em>Jawa</em> dan <em>Toraja</em>, ternyata banyak memberi pencerahan terhadap pemahaman akan pembedaan tentang hal yang <em>transenden</em> dan yang <em>imanen</em> dalam dua kebudayaan tersebut. Juga telah mengungkap pula perbedaan-perbedaan terhadap hal yang <em>esoterik</em> maupun <em>eksoterik</em> dalam dua kebudayaan tersebut. Barangkali, barangkali saja, setelah 17 tahun ternyata apa yang dulu menjadi harapan Rendra, yakni tentang harapan yang ia titipkan kepada kaum pengusaha muda yang waktu itu diharapkan bisa membuat perubahan, ternyata justru selama waktu itu jugalah kelompok tersebut terkooptosi untuk tidak memilih jalur yang seharusnya. Mereka malah terbenam dalam kemudahan-kemudahan yang justru menciptakan kesenjangan profesionalitas dan kesejatian komitmen. Dengan kata lain, waktu 17 tahun ternyata tak cukup untuk mewujudkan harapan. Yang terjadi justru kesimpangsiuran dan kontaminasi perasaan. Apa jadinya negeri ini jika bangsa ini tidak mempunyai cita-cita yang dipahami seluruh rakyatnya?<span> </span>Kita memang perlu pemimpin. Tetapi buat apa pemimpin jika tidak mampu mengartikulasikan hukum-hukum kesejatian kemanusiaan? Kita mau seorang pemimpin yang benar-benar memahami realitas sosial. Yang tidak hanya mampu menjaga keutuhan tetapi juga yang mampu memberikan dan sekaligus menggerakkan ke arah cita-cita bersama. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.15pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;letter-spacing:-0.1pt;" lang="SV"><span> </span>Pembaca yang budiman! Semoga dua narasi ini bisa memberikan secercah.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sekarkedhaton.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sekarkedhaton.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sekarkedhaton.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sekarkedhaton.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sekarkedhaton.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sekarkedhaton.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sekarkedhaton.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sekarkedhaton.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sekarkedhaton.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sekarkedhaton.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sekarkedhaton.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sekarkedhaton.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sekarkedhaton.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sekarkedhaton.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sekarkedhaton.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sekarkedhaton.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sekarkedhaton.wordpress.com&amp;blog=3887498&amp;post=4&amp;subd=sekarkedhaton&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekarkedhaton.wordpress.com/2008/06/05/kata-pengantar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/72335c123f3da02a2517cd3c0f5365ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sekarkedhaton</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
